Maluku Utara, LensaRepublik.com – Pemerintah Provinsi Maluku Utara menegaskan komitmennya untuk memastikan pemerataan hasil pembangunan ekonomi, meski saat ini Malut menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional, mencapai 38 persen. Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, dalam sambutannya pada perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Gereja Ekklesia GPdI Desa Lelilef Sawai, Kamis (11/12) malam.
Wagub menjelaskan, tingginya pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh hilirisasi sektor pertambangan belum seluruhnya menciptakan manfaat langsung bagi masyarakat. Karena itu, Pemprov Malut fokus mendorong program-program yang menyentuh kebutuhan dasar dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Upaya tersebut terbukti menurunkan angka kemiskinan dari 6,8% menjadi 5,18% serta menjaga inflasi tetap berada dalam kondisi stabil.
Namun, memasuki tahun fiskal 2026, Pemprov menghadapi tantangan baru berupa pemotongan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) dari Pemerintah Pusat sebesar sekitar Rp800 miliar. Kondisi ini dinilai akan memerlukan strategi khusus agar pembangunan prioritas tetap berjalan.
“Meskipun akan ada pemotongan anggaran, kami akan terus berjuang dengan segala upaya. Kami intens berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar program-program besar yang sudah disusun tetap terealisasi di Maluku Utara,” ujar Sarbin
Untuk memastikan masyarakat tetap merasakan kehadiran pemerintah menjelang Natal dan Tahun Baru, Pemprov Malut meluncurkan sejumlah program bantuan langsung. Di antaranya, program Mudik Bersubsidi bagi umat Kristiani yang merayakan Natal di wilayah Malut, serta pelaksanaan Pasar Murah di 72 titik sebagai langkah stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Selain itu, Pemprov juga telah membangun 720 unit Rumah Layak Huni yang dibiayai melalui hasil rasionalisasi anggaran, serta menyalurkan bantuan alat tangkap bagi kelompok nelayan yang membutuhkan. Program ini diharapkan mampu memperkuat perekonomian masyarakat berbasis sektor riil.
Pada kesempatan yang sama, Wagub Sarbin Sehe menyerahkan bantuan UMKM berupa kompor Hock dan kukusan (kalakat) kepada 15 penerima. Bantuan ini ditujukan untuk memperkuat usaha kecil agar semakin produktif dan berkelanjutan.
Salah satu penerima bantuan, Joyce Sareda, menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan tersebut. “Bantuan ini menjadi kebanggaan bagi kami. Saya berkomitmen mengembangkan usaha agar dapat meningkatkan penghasilan keluarga,” ujarnya.
Pemprov Malut menegaskan bahwa momentum Nataru menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga pada pemerataan manfaat yang dirasakan masyarakat di seluruh pelosok daerah.







