Jakarta, LensaRepublik.com – Dorongan untuk mempercepat pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) terus bergulir di tengah dinamika internal organisasi. Nemi Mu’tasim Billah, atau Gus Nemi Buntet, menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan yang telah disepakati dalam forum PP Lirboyo, yang salah satunya mendorong percepatan muktamar sebagai jalan keluar dari konflik yang berlarut-larut.

Menurut Gus Nemi, penundaan penyelesaian konflik internal berisiko menimbulkan kegaduhan berkepanjangan, baik di tingkat struktural maupun di kalangan warga nahdliyin. Ia menilai polemik yang terus bergulir di ruang publik dapat menggerus kepercayaan jamaah terhadap kepemimpinan NU.

“Kalau persoalan ini dibiarkan berlarut-larut, kegaduhan akan muncul di mana-mana. Dampaknya bukan hanya ke pengurus, tapi juga ke basis jamaah,” ujar Gus Nemi, Jum’at 26/12.

Ia menegaskan, percepatan muktamar bukan sekadar urusan teknis organisasi, melainkan langkah strategis untuk memulihkan stabilitas jam’iyyah. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Konflik internal yang berkepanjangan, menurutnya, justru berpotensi mengaburkan agenda utama NU dalam melayani umat.

Dalam pandangan Gus Nemi, islah menjadi pendekatan paling rasional dan bermartabat. NU, kata dia, dibangun di atas tradisi musyawarah dan kebijaksanaan para ulama. Karena itu, penyelesaian konflik seharusnya mengedepankan rekonsiliasi, bukan mempertajam perbedaan.

“Islah itu bukan tanda kelemahan. Justru itu cara paling dewasa untuk menjaga keutuhan NU,” katanya.

Gus Nemi juga menyoroti pentingnya sikap kenegarawanan menjelang muktamar. Ia berpandangan akan lebih bijak apabila figur-figur yang saat ini berada dalam pusaran konflik tidak kembali mencalonkan diri sebagai Ro’is ‘Aam maupun Ketua Tanfidziyah PBNU. Langkah tersebut dinilai dapat menurunkan tensi politik internal dan membuka ruang bagi regenerasi kepemimpinan.

“NU tidak kekurangan kader. Banyak tokoh yang mumpuni dan memiliki integritas, tanpa membawa beban konflik seperti sekarang,” ujarnya.

Ia menambahkan, regenerasi kepemimpinan penting agar NU tidak terjebak dalam konflik personal yang berulang. Menurutnya, keberlanjutan organisasi jauh lebih penting dibanding ambisi individu atau kelompok tertentu.

Dalam keterangannya, Gus Nemi turut mengingatkan pesan para kiai sepuh mengenai karakter khas NU. Ia menyebut istilah malati, sebuah ungkapan yang di kalangan pesantren dimaknai sebagai isyarat bahwa NU memiliki mekanisme penjaga moral dan spiritual.

“Para kiai sepuh selalu mengingatkan, NU itu malati. Artinya, NU ada yang menjaga. Kalau ada niat yang tidak baik terhadap NU, biasanya akan ada peringatan,” tuturnya.

Gus Nemi berharap kepengurusan NU yang lahir dari muktamar mendatang benar-benar mengedepankan kejujuran dan perjuangan untuk umat. Ia mengingatkan agar NU tidak bergeser menjadi ruang perebutan kepentingan pribadi atau sarana memperkaya diri.

“Kepengurusan ke depan harus fokus pada khidmah umat. Bukan memperbesar kekuasaan, apalagi memperkaya diri sendiri,” katanya.

Di tengah tantangan sosial, politik, dan keagamaan yang kian kompleks, NU dituntut untuk menjaga soliditas internal. Percepatan muktamar, sebagaimana disuarakan sejumlah kalangan pesantren, dipandang sebagai salah satu upaya untuk menghentikan konflik dan mengembalikan NU pada peran strategisnya sebagai penyangga moderasi Islam dan perekat kebangsaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini