Depok, LensaRepublik.com – Di sebuah studio di kawasan Sawangan, napas para peserta yoga terdengar pelan dan berirama. Tubuh-tubuh bergerak tanpa tergesa, mengikuti instruksi yang disampaikan Dewi Natarajasana dengan suara tenang. “Fokus pada napas. Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun,” ucapnya kepada peserta kelas pagi itu.

Bagi Dewi, yoga bukan hanya rangkaian gerakan fisik. Ia memaknainya sebagai ruang jeda tempat orang melepaskan penat, memulihkan diri, dan belajar kembali mendengarkan tubuhnya. “Banyak peserta datang membawa kelelahan mental. Di kelas, saya ingin mereka merasa aman, diterima, dan bisa bernapas dengan lebih ringan,” kata Dewi.

Lahir pada Desember 1990, Dewi menempuh proses panjang sebelum mantap berkarier sebagai instruktur yoga. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengikuti sejumlah pelatihan berbasis sertifikasi, antara lain Pelatihan Yoga Kebugaran Indonesia bersama Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia serta Hatta-Yin Yoga Teacher Training 200 jam di Yulay Yoga School pada 2024. Pada tahun berikutnya, ia melanjutkan peningkatan kompetensi melalui Training Program Mat Pilates Level 1-2 di Akademi Pilates Indonesia, serta workshop Mat Pilates dan Pengenalan Proposal di Polaris Studio Paris.

Baginya, proses belajar adalah bagian tak terpisahkan dari profesi instruktur. “Tubuh manusia terus berubah, begitu juga kebutuhan murid. Karena itu, instruktur harus terus belajar agar tetap relevan,” ujarnya.

Saat ini, Dewi aktif mengajar di berbagai studio, kelas komunitas, dan pusat kebugaran di wilayah Jabodetabek. Selain mengajar di jaringan Fithub di sejumlah cabang mulai Depok, Pamulang, ITC Permata Hijau, Pakansari, Cibinong, DTC, hingga Cirendeu ia juga terlibat dalam berbagai lembaga yang berfokus pada pengembangan kebugaran dan kelas berbasis komunitas.

Di luar ruang komersial, Dewi konsisten membangun akses yoga yang inklusif melalui kelas komunitas di berbagai lokasi, seperti di bawah pohon matoa (Arco Pengasinan), Cipayung Studio, Studio Sugara, Puskesmas Parung, Perumahan Parung Villa, Bulls Gym Bogor, hingga Shangtum Tanjung Priok. Ia juga dipercaya memandu kelas yoga privat di sejumlah kantor ternama di Jakarta, salah satunya PT Sambaki Tambang Sentosa yang berlokasi di Equity Tower SCBD, Jakarta Selatan, serta berbagai perkantoran lain di ibu kota.

Menurut Dewi, pilihan membangun yoga berbasis komunitas lahir dari sikap personal. “Saya tidak ingin yoga hanya bisa diakses mereka yang punya fasilitas modern. Yoga harus bisa hadir untuk siapa saja,” ujarnya.

Pasca-pandemi, Dewi melihat perubahan motif peserta. Jika sebelumnya yoga banyak diikuti untuk meningkatkan fleksibilitas tubuh, kini sebagian besar datang dengan keluhan burnout, stres, hingga gangguan tidur. Menjawab kebutuhan tersebut, ia memadukan mindful movement dengan teknik pernapasan yang lambat dan terarah. “Tujuan saya bukan sekadar membuat tubuh lebih lentur, tapi membantu mereka lebih selaras dengan diri sendiri,” katanya.

Meski perjalanan membangun ruang yoga berbasis komunitas tidak selalu mulus di beberapa wilayah yoga masih dipandang sebagai tren sesaat Dewi memilih menjawabnya dengan konsistensi program. Ia menjaga keberlanjutan kelas agar peserta dapat merasakan manfaat secara nyata dari waktu ke waktu. “Saya percaya pengalaman tubuh lebih jujur dari pada promosi,” ujar Dewi.

Seiring waktu, jejaring muridnya terus berkembang. Beberapa peserta yang awalnya datang untuk pemulihan fisik kini bertahan karena menemukan ketenangan dalam ritme latihan. Bagi Dewi, hal itu menjadi energi tersendiri. “Selama masih ada orang yang ingin belajar mendengar tubuhnya,” katanya, “kelas yoga tidak akan pernah selesai.”

Bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat aktivitas dan jadwal kelas Dewi Natarajasana, ia dapat diikuti melalui akun Instagram @dewi_natarjasa atau dihubungi langsung melalui kontak 0818-0845-4257.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini