Cirebon, LensaRepublik.com – Wacana penetapan Cirebon sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kembali mengemuka. Dorongan tersebut menguat seiring digelarnya konsolidasi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di wilayah Cirebon, yang dipandang sebagai bagian dari kesiapan struktural dan kultural warga Nahdliyin setempat.
Sejumlah kalangan NU menilai konsolidasi Banser tidak hanya bersifat rutin, tetapi juga mencerminkan kesiapan daerah dalam mengelola agenda besar organisasi. Banser selama ini menjadi elemen penting dalam setiap kegiatan strategis NU, khususnya terkait pengamanan dan pengorganisasian massa.
Tokoh NU Cirebon, KH. Mukhammad, yang akrab disapa Kang Imad, menyatakan persetujuannya terhadap wacana Muktamar ke-35 digelar di Cirebon. Menurut dia, Cirebon memiliki posisi historis yang kuat dalam perkembangan Islam Nusantara dan tradisi keulamaan di Indonesia.
“Cirebon memiliki jejak sejarah panjang sebagai pusat dakwah dan kebudayaan Islam pesisir. Dari sisi kultural dan sosial, Cirebon siap menjadi tuan rumah agenda besar NU,” kata Kang Imad.
Ia menilai pelaksanaan Muktamar di Cirebon tidak hanya soal teknis penyelenggaraan, tetapi juga memiliki makna simbolik bagi NU sebagai organisasi keagamaan yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan budaya lokal.
Dukungan terhadap wacana tersebut juga disebut telah mendapat persetujuan dari dzurriyah Buntet Pesantren. Buntet Pesantren dikenal sebagai salah satu pesantren tertua dan berpengaruh di Cirebon. Restu dari dzurriyah Buntet dinilai memperkuat legitimasi kultural atas dorongan penetapan Cirebon sebagai lokasi Muktamar.
Di tingkat lapangan, konsolidasi Banser di Cirebon dipandang sebagai upaya memastikan kesiapan sumber daya manusia dan soliditas kader. Kehadiran Banser dalam konsolidasi ini menunjukkan bahwa kesiapan daerah tidak hanya dibangun pada tataran wacana, tetapi juga pada aspek teknis dan pengamanan.
Pandangan serupa datang dari kalangan Nahdliyin urban. Alwin Kamal, warga Nahdliyin urban, menilai wacana Muktamar di Cirebon mencerminkan dinamika NU yang semakin terbuka terhadap aspirasi warga perkotaan tanpa meninggalkan akar tradisi.
“NU hari ini hidup di ruang pesantren sekaligus ruang urban. Cirebon menjadi titik temu keduanya. Karena itu, wacana Muktamar di Cirebon relevan dengan perkembangan sosial warga NU saat ini,” ujar Alwin.
Menurut Alwin, Muktamar tidak hanya menjadi forum pengambilan keputusan organisasi, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan keumatan dan kebangsaan. Lokasi Muktamar, kata dia, memiliki peran simbolik dalam menegaskan arah dan identitas NU ke depan.
Meski demikian, wacana penetapan lokasi Muktamar ke-35 masih bersifat aspiratif dan menunggu keputusan resmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun, menguatnya dukungan dari tokoh NU lokal, dzurriyah pesantren, hingga warga Nahdliyin urban menunjukkan bahwa Cirebon semakin diperhitungkan dalam dinamika internal NU menjelang Muktamar ke-35.







