Resensi Buku

Jakarta, LensaRepublik.com – Buku Sherly Tjoanda Laos: Jalan Sunyi Menuju Puncak menghadirkan potret kepemimpinan perempuan dengan pendekatan yang tenang dan reflektif. Disusun oleh Ilhan Erda dan Alwin Kamal, buku ini tidak sekadar merekam perjalanan hidup Sherly Tjoanda Laos sebagai figur publik, tetapi juga menggali nilai-nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan dalam kehidupan pribadi maupun ruang publik.

Sejak judulnya, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari sorotan dan kebisingan. “Jalan sunyi” menjadi metafora bagi proses panjang yang dijalani Sherly sebuah perjalanan yang dibangun melalui ketekunan, kesadaran nilai, serta kemampuan untuk memaknai setiap fase kehidupan. Meski masih berupa draf, narasi buku ini terasa matang dan konsisten dalam menjaga alur reflektifnya.

Alih-alih disusun secara kronologis dan kaku, buku ini lebih menyerupai perjalanan batin. Sherly Tjoanda tidak ditampilkan hanya sebagai anak, istri, atau pejabat publik, melainkan sebagai individu dengan kedalaman pemikiran yang dibentuk oleh pendidikan lintas budaya dan pengalaman hidup yang beragam. Pendekatan ini membuat pembaca melihat sosok Sherly secara lebih utuh dan manusiawi.

Salah satu tema kuat dalam buku ini adalah gagasan tentang kepemimpinan yang tidak menindas. Sherly digambarkan mengedepankan nilai empati, ketenangan, dan kemampuan mendengar. Kepemimpinan, dalam perspektif buku ini, bukan soal siapa yang paling lantang bersuara, melainkan siapa yang mampu membangun kepercayaan dan menghadirkan rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya.

Kisah pertemuan dan perjalanan hidup Sherly bersama Benny Laos dituturkan secara sederhana dan tanpa dramatisasi. Narasi ini memperlihatkan bagaimana relasi personal, nilai keluarga, dan ketulusan menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan sikap Sherly di ruang publik. Cerita cinta tidak diposisikan sebagai pusat, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan nilai hidup.

Buku ini juga mengulas pandangan Sherly tentang peran perempuan, pentingnya pendidikan lintas budaya, serta tantangan menjaga jati diri di tengah dunia yang semakin pragmatis dan serba instan. Isu-isu tersebut disajikan secara reflektif, relevan dengan realitas sosial, dan tidak terjebak pada jargon normatif.

Sejumlah tokoh nasional turut memberikan testimoni yang memperkuat pesan buku. Dahlan Iskan menilai Sherly sebagai pemimpin yang membangun kepercayaan, bukan ketakutan. Najwa Shihab melihatnya sebagai representasi perempuan tangguh yang membawa perubahan nilai dalam politik lokal. Sementara Yenny Wahid menyebut Sherly sebagai simbol pergeseran dari politik maskulin menuju kepemimpinan yang lebih empatik dan berorientasi pada pemulihan sosial.

Dengan ketebalan sekitar 100 halaman, Sherly Tjoanda Laos: Jalan Sunyi Menuju Puncak tergolong ringkas, namun padat makna. Buku ini tidak hanya relevan bagi masyarakat Maluku Utara, tetapi juga bagi pembaca di berbagai daerah yang ingin memahami kepemimpinan dari perspektif kemanusiaan. Sherly Tjoanda Laos digambarkan sebagai sosok yang memaknai perannya sebagai pelayan bagi lebih dari 1,28 juta rakyat, bukan sekadar simbol kemenangan demokrasi.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang sosok Sherly Tjoanda Laos. Ia menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah perjalanan hidup dapat dijalani dengan kesabaran, keteguhan, dan kesadaran nilai. Sebuah bacaan yang mengingatkan bahwa dalam kepemimpinan, jalan sunyi kerap justru melahirkan makna paling dalam.

Judul: Sherly Tjoanda Laos: Jalan Sunyi Menuju Puncak
Penyusun: Ilhan Erda & Alwin Kamal
Penerbit: Draft CMG Publishing & Literacy – Jakarta
Tahun Terbit: 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini