Jakarta, LensaRepublik.com – Di awal tahun, ketika ritme kota belum sepenuhnya kembali bising, layar ponsel para perantau Jawa Tengah di Jabodetabek dipenuhi pesan ringan. Ucapan selamat tahun baru, doa panjang, dan sesekali pamflet digital tentang kegiatan komunitas. Salah satu pamflet itu menampilkan satu nama dengan deretan peran yang rapi tersusun: KRAT Leles Sudarmanto Mangun Nagoro.

Tak ada slogan, tak ada ajakan terbuka. Hanya nama, jabatan, dan logo institusi. Namun justru dari kesederhanaan itulah perhatian muncul. Pamflet itu berseliweran dari satu grup WhatsApp ke grup lain, menjadi bahan obrolan sunyi di antara para perantau. Siapa Leles, dan mengapa namanya begitu akrab di ruang-ruang komunitas Jawa Tengah di Jabodetabek?

Leles dikenal sebagai Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah di Jabodetabek. Di wilayah metropolitan yang kerap meluruhkan identitas, paguyuban semacam ini menjadi ruang temu yang penting. Ia bukan sekadar tempat melepas rindu kampung halaman, melainkan juga simpul sosial tempat berbagi kabar, menggalang solidaritas, dan merawat nilai bersama.

Bagi banyak perantau, paguyuban adalah rumah kedua. Di sanalah bahasa daerah tetap hidup, tradisi dijaga, dan rasa kebersamaan dipelihara di tengah kerasnya kota. Posisi ketua umum dalam organisasi semacam ini jarang menuntut sorotan. Perannya lebih banyak bekerja di balik layar: menjaga keseimbangan, meredam gesekan, dan memastikan roda kebersamaan tetap berputar.

Namun jejak Leles tak berhenti di ruang komunitas. Namanya juga tercatat sebagai Komisaris PT MRT Jakarta. Dunia yang satu ini bergerak dengan logika berbeda rapat formal, laporan kinerja, dan tuntutan akuntabilitas publik. MRT Jakarta bukan sekadar moda transportasi, melainkan simbol modernitas dan tata kelola perkotaan.

Sebagai komisaris, peran Leles bukan menjalankan operasional harian, melainkan mengawasi arah dan memastikan amanah dijalankan. Kehadiran figur berlatar organisasi sosial di ruang korporasi daerah kerap dibaca sebagai upaya menghadirkan perspektif publik di tengah pendekatan teknokratis. Di titik ini, jejaring dan kepercayaan menjadi modal yang tak tertulis.

Benang lain yang menghubungkan aktivitas Leles adalah dunia pendidikan. Ia tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pakar Ikatan Alumni Universitas Terbuka, anggota Dewan Amanah Universitas Pelita Bangsa, serta Dewan Penyantun Universitas Tangerang Raya. Pendidikan, baginya, bukan sekadar institusi, melainkan jalan panjang membangun kesempatan.

Universitas Terbuka dikenal dengan misi memperluas akses pendidikan melalui sistem jarak jauh. Peran alumni dan dewan pakar menjadi penting untuk memastikan kebijakan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sementara di perguruan tinggi swasta, dewan amanah dan penyantun berfungsi menjaga arah dan nilai agar pendidikan tak semata menjadi urusan pasar.

Dalam buku Democracy and Association, ilmuwan politik Mark E. Warren menyebut asosiasi sosial sebagai jembatan antara warga dan struktur formal negara. Di ruang inilah, kepentingan publik dirawat sebelum diterjemahkan menjadi kebijakan. Paguyuban, alumni, dan organisasi profesi bekerja dalam senyap, namun menopang bangunan demokrasi sehari-hari.

Leles juga memimpin PAKARI sebagai Ketua Umum. Organisasi ini bergerak di ranah kepakaran dan advokasi profesi wilayah yang jarang mendapat sorotan, tetapi kerap menjadi dapur gagasan. Kerja di ruang ini berlangsung tanpa hingar-bingar, perlahan, dan nyaris tak terdengar.

Pamflet digital yang beredar di awal tahun itu seolah merangkum seluruh peran tersebut dalam satu bingkai. Bagi sebagian orang, ia sekadar informasi. Bagi yang lain, ia memancing tanya tentang bagaimana satu figur merajut begitu banyak simpul sekaligus.

Sosiolog Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society menyebut bahwa kekuasaan modern bekerja melalui jaringan. Bukan hanya lewat jabatan formal, tetapi melalui koneksi, kepercayaan, dan aliran informasi. Dalam konteks ini, pamflet digital bukan sekadar selebaran ia adalah penanda jejaring yang hidup.

Leles dikenal jarang tampil di panggung publik. Ia lebih sering hadir di ruang rapat, forum internal, dan pertemuan komunitas. Dalam Elite dan Kekuasaan Lokal, Mochtar Pabottinggi menyebut elite non-elektoral sebagai mereka yang bekerja “melalui institusi, bukan sorotan.”

Di tengah hiruk-pikuk kota dan derasnya arus informasi, peran semacam ini kerap luput dari perhatian. Namun justru di sanalah pengaruh bekerja sunyi, bertahap, dan berkelanjutan.

Di awal tahun, ketika pamflet itu terus berpindah dari satu layar ke layar lain, cerita tentang Leles Sudarmanto Mangun Nagoro tidak dibangun lewat janji atau pidato. Ia hadir melalui jejaring yang dirajut perlahan dan amanah yang dijaga dalam senyap.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini