Jakarta, LensaRepublik.com – Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mempercepat pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga soliditas organisasi di tengah dinamika internal yang berkembang. Muktamar, sebagai forum tertinggi NU, dipandang tidak hanya sebagai agenda struktural, tetapi juga ruang konsolidasi ideologis dan arah gerak jam’iyah ke depan.
Pandangan tersebut disampaikan Achmad Saifuddin, aktivis Nahdlatul Ulama muda Non Struktural yang akrab disapa Gus Penyok. Ia menilai percepatan Muktamar harus dimaknai secara substansial, bukan semata-mata administratif.
“Muktamar yang dipercepat seharusnya menjadi ruang penyelesaian yang bermartabat, berlandaskan musyawarah dan kebijaksanaan ulama. NU besar karena akhlak organisasinya, bukan karena tarik-menarik kepentingan,” ujar Gus Penyok, Kamis (25/12).
Keputusan percepatan Muktamar diambil melalui rapat konsultasi Syuriyah dan Mustasyar PBNU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Forum tersebut melibatkan Rais ‘Aam PBNU, Ketua Umum PBNU, para Mustasyar, serta sesepuh NU, dan menyepakati bahwa Muktamar akan digelar dalam waktu secepat-cepatnya dengan mekanisme konstitusional sesuai AD/ART NU.
Menurut Gus Penyok, langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa NU memilih jalur islah dan persatuan sebagai fondasi utama organisasi. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan Muktamar sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen jam’iyah, termasuk generasi muda.
“Pemuda NU tidak boleh hanya menjadi penonton. Kami harus hadir sebagai penyejuk, penghubung antar generasi, dan pengawal nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah agar tetap relevan di tengah perubahan zaman,” tegasnya.
Gus Penyok menilai generasi muda NU memiliki posisi strategis karena berada di persimpangan antara tradisi pesantren dan realitas sosial modern. Oleh karena itu, ia mendorong agar Muktamar memberi ruang lebih luas bagi gagasan-gagasan segar, terutama terkait transformasi organisasi, penguatan literasi digital, serta peran NU dalam merawat kebangsaan.
“NU harus tetap kokoh sebagai penjaga moderasi Islam dan persatuan bangsa. Tantangan ke depan tidak ringan polarisasi sosial, disrupsi digital, hingga krisis kepercayaan publik. Semua itu menuntut NU tampil lebih adaptif tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Penyok menekankan pentingnya menjaga etika komunikasi publik menjelang Muktamar. Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak diekspresikan melalui narasi yang justru memperlemah marwah organisasi.
“Perbedaan adalah bagian dari tradisi intelektual NU. Tapi jika tidak dikelola dengan adab, ia bisa berubah menjadi luka kolektif. Di sinilah peran moral para kiai dan tanggung jawab kader muda diuji,” katanya.
Hingga kini, PBNU belum mengumumkan secara resmi waktu dan lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Namun, kesepakatan untuk mempercepat forum tersebut dipandang sebagai momentum penting untuk menutup polemik internal dan mengembalikan fokus NU pada agenda besar keumatan dan kebangsaan.
Bagi Gus Penyok, Muktamar bukan hanya tentang siapa yang memimpin, melainkan tentang ke mana NU akan melangkah.
“Jika Muktamar dijalankan dengan niat tulus, terbuka, dan berorientasi maslahat, NU akan tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi umat dan bangsa,” pungkasnya.







