Jakarta, Lensarepublika.com – Dukungan agar Muktamar ke-35  digelar di  kian menguat. Selain dari kalangan pengurus wilayah, suara dukungan datang dari warga Nahdiyin urban hingga para tuan guru di Lombok yang menilai NTB memiliki legitimasi sosial dan kultural untuk menjadi tuan rumah forum tertinggi NU tersebut.

Muhammad Sidiq, warga Nahdiyin urban di Jakarta, mengatakan penempatan NTB bukan semata soal pemerataan wilayah, melainkan pesan strategis tentang arah organisasi memasuki abad kedua. “Jika NTB dipercaya, ini penegasan bahwa NU benar-benar organisasi nasional. Pusat gravitasinya tidak lagi identik dengan Pulau Jawa,” ujar Sidiq, Selasa, 17 Februari 2026.

Menurut dia, Muktamar kali ini memikul beban historis: mengonsolidasikan organisasi pasca-dinamika internal serta merumuskan strategi menghadapi disrupsi digital dan polarisasi sosial. Ia menilai NTB memiliki konteks sosial yang relevan untuk itu.

Data demografi menunjukkan NTB didominasi penduduk Muslim, namun memiliki tradisi koeksistensi yang relatif stabil dengan komunitas Hindu, Buddha, dan Kristen. Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) nasional 2025 yang mencapai 77,89 tertinggi dalam lebih dari satu dekade menjadi indikator bahwa harmoni sosial berada dalam tren positif, dan NTB termasuk wilayah dengan kategori kerukunan tinggi.

“Mayoritas diuji bukan pada jumlahnya, tetapi pada kemampuannya melindungi yang berbeda,” kata Sidiq. Ia menilai Muktamar di NTB akan menjadi panggung pembuktian apakah konsep moderasi beragama yang selama ini digaungkan NU mampu diterjemahkan dalam praktik sosial berskala besar.

Pernyataan serupa disampaikan TGH Muzhar Bukhori Muslim, tuan guru di Lombok. Ia mengatakan kesiapan NTB tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari tradisi sosial yang menopang harmoni. “Kerukunan di NTB tumbuh dari budaya gotong royong dan musyawarah. Muktamar akan memperlihatkan bagaimana nilai-nilai itu bekerja dalam skala nasional,” ujarnya.

Menurut Muzhar, dukungan tokoh lintas agama terhadap rencana penyelenggaraan Muktamar menunjukkan adanya kepercayaan terhadap NU sebagai penjaga stabilitas sosial. “Kami ingin menunjukkan bahwa mayoritas bisa menjadi pelindung, bukan sumber kekhawatiran,” katanya.

Ia juga menilai momentum ini bertepatan dengan kebutuhan memperkuat kembali semangat islah di tubuh organisasi. “Muktamar harus menjadi ruang musyawarah yang teduh, bukan arena kompetisi yang memecah,” ujarnya.

Sidiq menambahkan, lokasi memang penting secara simbolik, tetapi substansi jauh lebih menentukan. Ia berharap Muktamar ke-35 menghasilkan keputusan strategis mengenai penguatan ekonomi umat, modernisasi tata kelola organisasi, serta model dakwah yang responsif terhadap generasi muda urban.

“NTB bisa menjadi simbol desentralisasi dan inklusivitas. Tapi yang akan dikenang dari Muktamar ke-35 adalah arah yang ditetapkan NU untuk satu abad ke depan,” kata Sidiq.

Keputusan akhir mengenai lokasi tetap berada di tangan Pengurus Besar NU melalui mekanisme organisasi. Namun menguatnya dukungan dari berbagai elemen menunjukkan bahwa perdebatan lokasi telah berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang masa depan NU dan perannya dalam menjaga kohesi sosial Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini