Jakarta, LensaRepublik.com – Di tengah maraknya agensi digital yang berlomba-lomba mengejar viralitas, nama Aji Amdani muncul sebagai representasi CEO muda dengan pendekatan berbeda. Di usia yang relatif muda, Aji memilih jalur yang lebih tenang namun terukur dengan mendirikan Buruan Digital, sebuah agensi pemasaran digital yang mulai mencuri perhatian di tengah padatnya industri kreatif Jakarta.
Buruan Digital berdiri pada 2024, saat belanja iklan digital nasional terus menunjukkan tren positif. Perpindahan perilaku konsumen ke ranah digital membuat media sosial dan konten daring menjadi tulang punggung strategi brand. Namun bagi Aji, kehadiran di digital bukan sekadar soal ramai.
“Banyak brand sudah aktif di digital, tapi belum tentu paham pesan apa yang ingin mereka bangun,” ujar Aji.
Berangkat dari kegelisahan itu, Aji membangun Buruan Digital bukan sebagai agensi pembuat konten semata, melainkan mitra strategis brand. Fokusnya terletak pada perencanaan komunikasi digital, pengelolaan media sosial berbasis tujuan bisnis, hingga evaluasi kampanye melalui data dan respons audiens.
Pendekatan tersebut membuat Buruan Digital perlahan mendapat kepercayaan klien dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, gaya hidup, hingga bisnis yang tengah melakukan ekspansi pasar. Di saat banyak agensi mengedepankan angka impresi dan viral reach, Aji justru menekankan efektivitas pesan.
“Ramai itu penting, tapi tepat sasaran jauh lebih penting,” katanya.
Sebagai CEO muda, Aji tidak mengambil peran simbolik semata. Ia masih terlibat langsung dalam proses strategis, mulai dari perumusan kampanye hingga evaluasi hasil. Menurutnya, keterlibatan langsung di fase awal bisnis menjadi kunci untuk memahami dinamika pasar secara nyata.
“Kalau hanya duduk di level keputusan tanpa tahu realitas lapangan, kita mudah salah arah,” ungkapnya.
Fenomena munculnya CEO-CEO muda di industri kreatif juga mendapat perhatian pengamat. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai bahwa industri digital kini semakin terbuka bagi pemain baru.
“Teknologi menurunkan hambatan masuk. Yang menentukan bukan lagi ukuran perusahaan, tapi kecepatan adaptasi dan konsistensi eksekusi,” jelasnya.
Namun, Aji menyadari bahwa Jakarta tetap menjadi arena yang keras. Banyak bisnis digital tumbuh cepat, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan karena fondasi yang rapuh. Karena itu, ia memilih menahan laju ekspansi dan fokus memperkuat sistem kerja serta tim internal.
“Kami tidak ingin tumbuh cepat tapi mudah runtuh,” katanya.
Ke depan, Aji berharap Buruan Digital tidak hanya berkembang sebagai bisnis, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi talenta muda di industri digital. Baginya, ekonomi kreatif bukan sekadar soal ide-ide segar, melainkan kemampuan mengelola ide tersebut agar berkelanjutan.
Di tengah hiruk-pikuk industri kreatif Ibu Kota, Aji Amdani menunjukkan bahwa menjadi CEO muda tidak selalu harus identik dengan sensasi. Kadang, pilihan paling berani justru adalah membangun bisnis dengan disiplin, strategi, dan kesabaran.







