Purworejo, LensaRepublik.com – Di kalangan santri dan masyarakat Kabupaten Purworejo, Mutammimul masholih Azhar lebih dikenal dengan panggilan Gus Tamim. Ia memimpin Pondok Pesantren Al-Azhar Kabupaten Purworejo serta merupakan pendiri PT. Attamimi Tawakkal Alalloh, perusahaan yang bergerak di bidang Biro Umrah dan Haji Khusus.

Peran tersebut tidak terlepas dari perjalanan hidupnya. Salah satu fase yang kerap disebut sebagai pembentuk cara pandang dan kepemimpinannya adalah masa tinggalnya yang cukup lama di Makkah. Di kota suci itu, Gus Tamim berinteraksi dengan jamaah dan penuntut ilmu dari berbagai negara, menyaksikan langsung dinamika ibadah dalam skala besar dengan latar belakang yang beragam.

“Makkah mengajarkan disiplin dan tanggung jawab,” ujar Gus Tamim kepada Lensa Republik, awal pekan ini. Menurutnya, kehidupan di Tanah Suci menuntut ketertiban tinggi, kesabaran, serta kesadaran bahwa setiap peran membawa konsekuensi, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Sekembalinya ke Purworejo, nilai-nilai tersebut ia terapkan saat memimpin Pondok Pesantren Al-Azhar. Ia memandang pesantren tidak semata sebagai ruang transmisi ilmu keagamaan, melainkan sebagai tempat pembentukan karakter. Disiplin, adab, dan kepekaan sosial menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang ia dorong.

“Tantangan santri hari ini bukan hanya memahami teks, tetapi bagaimana bersikap di masyarakat,” katanya. Karena itu, pendidikan di pesantren diarahkan agar tetap berakar pada tradisi keilmuan, sekaligus responsif terhadap realitas sosial yang terus berubah.

Jejak pengalaman Makkah juga terasa dalam kiprahnya di sektor layanan ibadah. Sebagai pendiri PT. Attamimi Tawakkal Alalloh, Gus Tamim terlibat sejak awal dalam merintis Biro Umrah dan Haji Khusus tersebut. Ia menyadari bahwa umrah dan haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses ibadah yang sarat dengan harapan dan tanggung jawab moral.

“Orang berangkat membawa niat yang besar,” ujarnya. Karena itu, ia menilai bahwa penyelenggara tidak cukup hanya memastikan keberangkatan dan kepulangan. Pendampingan jamaah, keterbukaan informasi, serta kepatuhan terhadap ketentuan menjadi prinsip yang ia tekankan sejak lembaga itu berdiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor biro umrah dan haji kerap menjadi sorotan akibat persoalan kepercayaan. Gus Tamim menyadari sensitivitas tersebut. Ia memilih pendekatan hati-hati dan tidak menempatkan diri sebagai figur yang menonjol di ruang publik. Fokusnya adalah memastikan layanan berjalan sesuai aturan dan jamaah mendapatkan haknya.

Peran ganda sebagai pimpinan pesantren dan pendiri biro umrah dan haji khusus kerap menempatkan Gus Tamim di persimpangan antara nilai ideal dan tuntutan praktis. Namun, ia melihat keduanya tidak bertentangan. Nilai yang ditanamkan di pesantren justru menjadi pijakan etis dalam mengelola layanan ibadah.

Di Purworejo, Gus Tamim dikenal bekerja dengan cara yang tenang. Ia lebih sering berada di ruang-ruang dialog bersama santri, jamaah, dan masyarakat ketimbang tampil di panggung besar. Pola kerja ini membuatnya dipandang sebagai sosok yang konsisten menjaga amanah.

Pengalaman tinggal di Makkah meninggalkan jejak panjang dalam cara Gus Tamim memimpin. Dari Tanah Suci hingga Purworejo, ia memegang satu prinsip yang sama: amanah adalah fondasi. Prinsip itu yang terus ia rawat, baik dalam dunia pendidikan pesantren maupun dalam layanan ibadah yang ia rintis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini