Jakarta, LensaRepublik.com – Di usia 20-an, Evelyn Imeldinata sudah mulai memikirkan pertanyaan yang lebih jauh dari sekadar bagaimana mendapatkan pekerjaan. Ia mulai memikirkan bagaimana pengalaman yang dimilikinya dapat digunakan untuk menciptakan kesempatan bagi orang lain.
Pemikiran itu muncul setelah Evelyn menjalani sejumlah aktivitas di dunia kreatif dan profesional. Berinteraksi dengan berbagai orang membuatnya melihat bahwa kebutuhan setiap pencari kerja tidak selalu sama. Ada yang mencari pekerjaan tetap, sementara sebagian lainnya membutuhkan pekerjaan yang dapat disesuaikan dengan aktivitas mereka.
“Saya ingin usia 20-an ini benar-benar digunakan untuk membangun masa depan. Saya tidak mau terlalu banyak membuang waktu ketika masih muda,” ujar Evelyn.
Perempuan kelahiran Jakarta, 9 September 2003, itu memang memiliki target personal yang cukup jelas. Ia ingin mencapai financial freedom sebelum berusia 30 tahun. Untuk mengejar target tersebut, Evelyn memilih membangun bisnis sembari tetap mempertahankan keterlibatannya di dunia kreatif.
Baginya, membangun bisnis bukan perkara mengejar angka semata. Ada proses belajar, kegagalan, perubahan lingkungan, hingga keputusan untuk kembali mencoba ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
“Kalau kita jatuh atau gagal, bukan berarti semuanya selesai. Kita harus belajar dari situ dan mulai lagi,” katanya.
Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara Evelyn memandang peluang. Jika sebelumnya kesempatan lebih banyak ia lihat sebagai sesuatu yang harus dicari, kini ia ingin ikut menciptakannya.
Dari pemikiran tersebut lahir EVETA Official. Konsep yang dibawa berkaitan dengan “Every Talent”, tetapi Evelyn menempatkannya bukan semata sebagai ruang bagi influencer. Ia ingin menjangkau orang-orang yang sedang mencari kesempatan kerja dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
Hal itu termasuk mereka yang belum memiliki banyak pengikut di media sosial atau baru mencoba masuk ke dunia kerja. Kesempatan yang tersedia pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari freelance, part-time, hingga full-time.
“Tidak semua orang punya kondisi yang sama. Ada yang masih kuliah, ada yang punya kesibukan lain, dan ada yang memang membutuhkan pekerjaan full-time. Karena itu saya melihat pilihan kerja yang fleksibel juga penting,” ujar Evelyn.
Bagi Evelyn, gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari: seseorang bisa memiliki kemampuan, tetapi belum tentu mengetahui ke mana kemampuan tersebut harus dibawa.
Karena itu, ia ingin informasi mengenai pekerjaan dan proyek dapat lebih mudah ditemukan oleh talent. Pengembangan EVETA menjadi salah satu langkah yang sedang dijalankannya, dengan beberapa kantor yang telah berjalan, termasuk di kawasan SCBD, Jakarta.
Rencana memperluas jaringan ke berbagai daerah Indonesia juga menjadi bagian dari perjalanan bisnisnya. Namun, Evelyn menyadari bahwa membangun sesuatu dari usia muda membutuhkan proses panjang dan tidak selalu berjalan mulus.
Di tengah kesibukan tersebut, perubahan juga terjadi dalam kehidupan personalnya. Ketika semakin serius mengejar tujuan, ia mulai melihat kembali lingkaran pertemanan dan belajar memahami siapa saja yang benar-benar mendukung perjalanan tersebut.
Bagi Evelyn, keberhasilan akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa besar bisnis yang berhasil dibangun. Ia juga ingin membuat keluarga bangga, menjalani kehidupan yang diimpikannya, dan memiliki kemampuan untuk membantu orang lain.
“Buat saya, sukses bukan cuma soal punya bisnis besar atau financial freedom. Saya juga ingin apa yang saya lakukan punya manfaat untuk orang lain,” katanya.
Kini, Evelyn berada pada fase ketika pengalaman di dunia kreatif dan ketertarikannya pada bisnis berjalan beriringan. Ia masih mengejar target pribadinya sebelum usia 30, tetapi pada saat yang sama mulai membangun sesuatu yang lebih luas dari ambisi pribadi.
Prinsipnya sederhana: “Jangan menunggu kesempatan, tapi ciptakanlah.”
Bagi Evelyn, kalimat tersebut bukan sekadar motivasi. Ia menjadi cara pandang baru dalam melihat perjalanan karier: ketika sebuah peluang belum tersedia, mungkin sudah waktunya membuat pintu sendiri dan membuka pintu itu untuk orang lain.
