Purworejo, Lensarepublik.com – Ketika Nurida Umiyati Utami memutuskan maju sebagai kepala desa pada usia 30 tahun, Desa Polowangi, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, masih menghadapi persoalan yang tidak ringan. Kemiskinan tinggi, sumber daya manusia terbatas, sementara infrastruktur dasar belum memadai. Jalan di sejumlah wilayah belum memiliki rabat beton dan ketika hujan turun, akses warga bisa berubah menjadi jalan becek yang menyulitkan mobilitas.
Di tengah kondisi itu, Nurida justru datang bukan dengan pengalaman panjang di pemerintahan. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak. Dunia pemerintahan desa masih menjadi sesuatu yang baru baginya.
Namun, kondisi Polowangi membuatnya memilih untuk tidak hanya melihat dari luar.
“Saat awal mencalonkan kepala desa, saya masih berusia 30 tahun dan punya dua orang anak. Berbekal sebagai ibu rumah tangga, tentunya saya belum punya pengalaman. Saat itu saya juga belum punya harapan banyak, hanya saja saya prihatin dengan tingkat kemiskinan di desa yang sangat tinggi,” ujar Nurida.
Persoalan yang dilihatnya tidak berhenti pada kemiskinan. Menurut Nurida, kualitas sumber daya manusia ketika itu juga masih menjadi tantangan. Ia mengingat, jumlah warga yang berstatus PNS hanya sekitar lima orang dalam satu desa.
Kondisi tersebut membuat pembangunan Polowangi membutuhkan pekerjaan yang panjang. Nurida kemudian memilih memulai dari kebutuhan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: akses jalan.
Pada 2008, desa mendapatkan bantuan sekitar Rp100 juta. Dengan anggaran yang tersedia, pembangunan dilakukan secara bertahap. Jalan poros desa, akses antar-RT, hingga jalan menuju permukiman warga mulai dibangun dengan rabat beton.
Bagi Nurida, jalan bukan sekadar infrastruktur fisik. Akses yang lebih baik berarti mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah, termasuk ketika warga harus bekerja, membawa hasil usaha, atau menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pembangunan pun berlangsung bertahap hingga berbagai akses desa kini telah terbangun. Persoalan lain kemudian muncul ketika musim hujan tiba.
Sejumlah wilayah Polowangi memiliki potensi longsor. Pemerintah desa mengupayakan pembangunan talud untuk menangani tebing yang rawan. Menurut Nurida, sebagian besar titik yang berpotensi longsor kini telah mendapatkan penanganan.
Setelah pembangunan infrastruktur dasar semakin berkembang, pemerintah desa mulai merintis jalan usaha tani (JUT).
Nurida tidak ingin pembangunan hanya berhenti pada proyek fisik. Pemuda yang tidak merantau dilibatkan dalam kegiatan pembangunan desa, termasuk sebagai tenaga tukang.
Pemberdayaan perempuan dilakukan melalui kursus dan pelatihan. Pelaku UMKM juga didata agar dapat diarahkan mengikuti pelatihan serta berbagai kegiatan pameran.
Meski sejumlah perubahan telah berjalan, Nurida masih menghadapi persoalan klasik desa: keterbatasan anggaran. Pendapatan asli desa (PAD) masih minim sehingga pembangunan banyak mengandalkan Dana Desa.
BUMDes mulai memberikan pendapatan dalam dua tahun terakhir, tetapi kontribusinya masih terbatas.
Sementara itu, tantangan lain datang dari sektor pendidikan. Minat sebagian remaja untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi masih rendah. Setelah lulus SMA atau sederajat, sebagian memilih langsung bekerja. Mata pencaharian masyarakat pun masih banyak bergantung pada pekerjaan sebagai buruh.
Setelah tiga periode memimpin Desa Polowangi, Nurida memastikan dirinya tidak akan kembali mencalonkan diri. Ia memandang masa pengabdiannya telah sampai pada batas yang ditetapkan, sementara pembangunan desa harus terus dilanjutkan oleh generasi kepemimpinan berikutnya.
“Saya sudah tiga periode dan sudah sampai pada batas maksimal untuk kembali mencalonkan diri. Ke depan, saya akan tetap memberikan dukungan kepada kepala desa terpilih agar Desa Polowangi bisa semakin maju, menjadi desa yang mandiri dan berdaya guna bagi pembangunan serta mewujudkan masyarakat yang sejahtera,” tutur Nurida.
Pernyataan tersebut sekaligus menandai babak baru bagi Polowangi. Setelah bertahun-tahun membangun dari persoalan paling dasar, Nurida berharap estafet kepemimpinan dapat dilanjutkan dengan semangat yang sama.
Perjalanan Nurida menunjukkan bahwa membangun desa tidak selesai hanya dengan memperbaiki jalan. Setelah persoalan akses mulai ditangani, tantangan berikutnya adalah membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan perekonomian.
Dari seorang ibu rumah tangga yang memberanikan diri maju sebagai kepala desa di usia 30 tahun, Nurida kini menutup masa pengabdiannya dengan satu harapan: Polowangi terus bergerak maju, menjadi desa yang semakin mandiri, berdaya guna, dan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
