Depok, LensaRepublik.com – Pagi di Sawangan berjalan pelan. Di sebuah rumah sederhana, aroma ketan yang difermentasi perlahan menyelinap dari dapur. Tak ada spanduk usaha, tak pula etalase mencolok. Dari ruang kecil itulah Aswin Rizky Akbar merawat hidupnya, sembari menunggu panci-panci ketan item menyelesaikan prosesnya.
Aswin, pemuda kelahiran Jakarta 1990, adalah wajah baru di barisan pelaku UMKM Kota Depok. Ia tak datang dari latar keluarga pedagang. Lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Pamulang pada 2014, Aswin sempat bekerja sebagai staf gudang di kantor pusat perusahaan peternakan dan olahan ayam di Jakarta Selatan. Hidupnya berubah pada 2020, ketika pandemi Covid-19 memutus kontrak kerjanya secara sepihak.
Pemutusan kerja itu datang di tengah situasi yang tak ramah. Kesehatan keluarga terganggu, lapangan kerja menyempit, dan tabungan perlahan menipis. “Saat itu saya cuma berpikir bagaimana caranya bertahan,” ujar Aswin saat ditemui di kediamannya, Jumat, 2 Januari 2026.
Dalam kondisi serba terbatas, ia memilih jalan yang paling mungkin: memulai dari rumah. Dengan modal minim dan peralatan sederhana, Aswin merintis usaha “Tape Ketan Item Khas Sawangan”. Produksi dilakukan manual, pemasaran mengandalkan lingkar terdekat, dan hasilnya jauh dari kata besar. Namun usaha itu memberinya ruang untuk tetap berdiri sebagai penopang keluarga.
Hari-hari Aswin kini diisi rutinitas yang berbeda dari dunia hukum yang pernah dipelajarinya. Ia menakar bahan, menjaga proses fermentasi, mengemas pesanan, dan mengantarkannya sendiri. Di tengah ekonomi pascapandemi yang belum sepenuhnya pulih, konsistensi menjadi capaian yang ia syukuri. “Bisa bertahan sampai sekarang saja sudah Alhamdulillah,” katanya.
Aswin menyadari, usaha kecil tak bisa berjalan sendiri. Ia percaya keberlangsungan UMKM bertumpu pada kebiasaan masyarakat untuk saling menopang. Membeli produk lokal, menurutnya, bukan semata transaksi, melainkan bentuk keberpihakan. “Kalau bukan kita yang saling dukung, UMKM kecil seperti ini sulit tumbuh,” ujarnya.
Bagi generasi muda, Aswin menitip pesan sederhana: memulai tak harus besar. “Cari yang modalnya minim, sambil belajar, dan turunkan gengsi,” katanya.
Di Sawangan, dari dapur yang senyap itu, Aswin merawat harapan bahwa usaha kecil, jika dijaga bersama, bisa tetap hidup dan memberi makna bagi banyak orang.







