Purworejo, LensaRepublik.com – Nama Suci Ariani mungkin belum sering muncul di panggung nasional. Namun di Purworejo dan sejumlah wilayah Jawa Tengah, perempuan ini dikenal sebagai pengusaha yang mengelola beragam lini usaha, mulai dari kegiatan keagamaan hingga bisnis kreatif. Dalam satu dekade terakhir, Suci membangun jejaring usaha yang saling terhubung, dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Suci adalah penggerak Majelis Dzikir Nurul Qodiri Indonesia, sebuah wadah keagamaan yang aktif menggelar kegiatan dzikir dan sosial. Dari aktivitas ini, ia membaca peluang ekonomi yang lahir dari kebutuhan umat, terutama dalam penyelenggaraan acara keagamaan berskala besar. “Setiap kegiatan selalu membutuhkan banyak dukungan, dari konsumsi, tenda, hingga dokumentasi,” kata Suci.
Dari sana, Suci merintis CV Bintang Gajah-Gajah Grup, sebuah payung usaha yang menaungi berbagai unit bisnis. Di sektor pangan, ia mengelola Sultan Etawa Farm, yang fokus pada peternakan kambing etawa dan pengolahan produknya. Sementara di sektor perdagangan, Suci menjalankan KM Diamond, yang bergerak di distribusi barang dan jasa pendukung usaha kecil.
Bisnis jasa menjadi salah satu kekuatan utamanya. Melalui DIAKU Catering, Suci melayani kebutuhan konsumsi untuk acara keluarga, keagamaan, hingga kegiatan pemerintahan. Ia juga mengembangkan layanan event organizer yang mencakup dekorasi, penyewaan tenda, tata rias atau make up artist (MUA), hingga multimedia. “Kami ingin masyarakat cukup datang ke satu pintu untuk mengurus acara,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Suci merambah sektor pemasaran dan konsultasi bisnis. Unit Marketing Konsultan yang ia rintis menyasar pelaku UMKM yang belum memiliki strategi pemasaran digital. Pendekatan yang digunakan sederhana: menyesuaikan model bisnis dengan kapasitas pelaku usaha. “Banyak UMKM sebenarnya punya produk bagus, tapi bingung menjualnya,” kata Suci.
Di sektor ritel, Suci juga menjalankan usaha penjualan gamis, hijab, dan sepatu. Produk ini dipasarkan secara daring dan luring, memanfaatkan jaringan komunitas yang telah terbentuk dari aktivitas keagamaan dan sosial. Menurut Suci, kepercayaan adalah modal utama dalam mengembangkan usaha berbasis komunitas.
Model bisnis Suci mencerminkan pola kewirausahaan akar rumput, yang tumbuh dari kebutuhan riil masyarakat sekitar. Ia tidak membangun usaha secara terpisah, melainkan saling menopang satu sama lain. Ketika satu sektor melambat, sektor lain menjadi penyangga. Strategi ini terbukti membuat usahanya bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Berbasis di Kedung Sari, Cangkrepkidul, Purworejo, Suci mengaku masih ingin memperluas jangkauan usahanya. Fokus ke depan adalah penguatan manajemen dan digitalisasi layanan. “Tantangannya sekarang bukan lagi memulai, tapi menjaga kualitas dan kepercayaan,” ujarnya.
Kisah Suci Ariani menunjukkan bahwa kewirausahaan tak selalu lahir dari modal besar. Ia tumbuh dari ketekunan membaca peluang, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan merajut jejaring sosial menjadi kekuatan ekonomi.







